Ya ampuuuun. Bisa bisanya lupa ngeblog. Kemarenan aku tuh uda berencana mok ngepost lah kan. Padahal kemaren juga nggak sibuk sama sekali. Nganggur banget. Sampe sempet bikin spaghetti carbonara yang rasanya asin banget hahahaha.
Pas hari kamis yang malah ada kegiatan sampe malam aja aku bisa kasih waktu buat ngeblog. Lha ini malah kemaren aku lowong owng wong, eeeh malah lupa ngeblog
Dasar capricorn
Dasar aku
Hahaha
Oke, tema kali ini tentang #writesabouthappiness
Alhamdulillah, kehidupanku selama ini masih di kasi Allah banyak banget hal untuk di sukuri
Banyak banget kenikmatan yang di kasinya itu Cuma – Cuma sama Allah. Ga pake bayar, baik ngangsur atau kredit *ciyee curhat* hahaha
Gini deh
Aku pernah nyantri selama 6 tahun
Lalu kau lanjut belajar Biologi di Surabaya
Seingatku, dan aku ingat betul. Walaupun yeu aku anaknya pelupa, tapi tentang hal ini, aku insya allah inget banget
Seingatku, aku bukan santri atau siswa yang pinter. Bahkan aku termasuk siswa yang kalo di sekolah sekolah itu pasti jadi omongan walikelas saking ga pinternya. Di MTs dlu aku pernah nggak tuntas sama skeali pelajaran sekolah dan pondok. Dari 15 mata pelajaran sekolah dan pondok, aku Cuma tuntas 3 pelajaran :D dan setiap kenaikan kelas, buknung selalu di panggil walikelas karena aku yang nilainya ga ada perubahan sema sekali. Tapi ibukku dengan sabar selalu menasehatiku, kalau aku harus bis aberubah, aku harus bisa menjadi lebih baik kedepannya. Ibuk juga nggak pernah lelah menaruh harapan ke aku walau aku ga pinter – pinter banget. Huhuhu. Dan teman teman sekelasku, juga kakak kelasku, juga guru guru ga pernah capek untuk mengajariku. Ya emang aku ga pinter, dan aku harus sadar kalo aku ga pinter. Karena aku ga pinter, aku harus belaja 2x lipat lebih keras daripada teman temanku yang pinter.
Lalu, waktu kuliah biologi juga. Aku pernah dapet nilai D. Ak masih ingat banget nilai D ku adalah Matematika dasar dan Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah (TTR) . nggak jarang juga akukesusahan di beberapa materi biologi. Alhamdulillah aku masih punya banyak teman baik yang mau bantuin aku belajar. Ya walaupun aku ga pinter tapi aku ini termasuk rajin mencatat pelajaran yah. Catatan perkuliahan ku selalu lengkap. Jadi walaupun ga paham materinya, seenggaknya aku punya catatan buiat belajar ulang. Nah biasanya aku belajar bareng temen temenku. Yang biasanya dia nggak nyatet tapi paham sama materi, bisa ku lengkapi dengan catatanku yang lengkap walau aku ga paham apa yang ku tulis hahaha
Dengan satu kekuranganku yg ga pinter, apa aku sedih? Apa aku kemudian menyalahkan diri ku yang ga pinter ini?
Tentu saja sedih :D
Tentu saja kadang aku merasa, kenapa semua orang pinter dan aku tidak :D
Tapi kemudian aku sadar, masih banyak banget yang membantu. Masih banyak banget yang mendukung. Kenapa aku harus susah? Kenapa harus sedih?
Emang
Nggak gampang buat mengalihkan kesedihan ke kesenangan
Karena urusannya sama hati. Hati nggak bisa dengan gambang di ubah ke kanan dan ke kiri, tapi perlahan, hati itu bisa di tata sesuai dengan kemauan kita. Berdoa saja sama Allah. Sang maha membolak balikkan hati
Eaaakkk
Tapi btw kok jadi melantur kesana kemari sih hahaha
Maksudku gini
Aku belajar di pondok, itu adalah pilihanku. Karena aku mau
Walaupun aku tau resiko sekolah di pondok banyak hafalan, kegiatan yang super padat dan pelajarannya 2x lipat lebih banyak daripada pelajaran sekolah biasa
Aku belajar biologi juga karena pilihanku. Walau otakku pas pas – an
Tapi aku juga harus terima kalau nnti aku harus belajar 5x lebih giat daripada teman yang lain. 5x lipat tidur lebih sedikit daripada teman yang lain
Jadi, walaupun aku mengalami kesusahan karena otakku yang pas – pasan ini
Daripada menyalahkan keadaan mending kan aku mencari jalan lain. Agar aku bisa survive dan bisa menikmati hidup seperti temanku yang lain.
Dan aku, tidak pernah merasa keberatan dengan keadaanku yang harus edikit berbeda dari kawan kawanku. Kenapa? Karena semua pilihan itu aku yang ambil. Kuliah di biologi ya karena aku yang mau. Bukan di paksa oleh siapapun. Mondok? Juga aku sendiri yang mau. Bukan di paksa oleh siapapun
Jadi mungkin, bahagia itu, memerdekakan keinginan kita
Apakah dengan kita memerdekakan keinginan lalu kemudia kita bisa pasti bahagia?
Belum tentu, akan selalu ada resiko yang harus kita terima di setiap keputusan yang kita ambil. Jika pilihan yang kita ambil adalah hal yang kita senangi, apapun resiko yang akan kita hadapi nanti, its’s not a big deal, Right?
Salam hangat
#day9
#WriteAboutHappiness
#30dayswritingchallenge
#30harimenulisblog
Tidak ada komentar:
Posting Komentar