seorang lelaki berbadan jangkung,
menyelipkan senyum pada langkahnya yang santai.
tidak pada semua orang lakilaki ini dapat tersenyum. entah bagaimana dia memilih orang untuk mendapatkan senyumnya. hanya saja yang masih ku ingat, senyumnya sangat menawan...
seorang lelaki berbadan jangkung,
seorang lelaki yang juga pemilik mata yang sayu itu. tidak tahu mengapa matamu yang sayu itu dapat mengiris mata lain yang berusaha menerobos pandangan matamu. entah bagaimana bisa matamu yang sayu itu menggambarkan sosokmu yang bertanggaungg jawab
seorang lelaki berbadan jangkung,
hei pemilik langkah kaki yang lebar-lebar! langkahmu yang lebar-lebar itu, pernahkah kau merasa ada seseorang yang sanagt susah payah mengejarmu karena begitu lebarnya langkah yang kau ambil? pernahkah kau merasa karena langkahmu yang lebar itu, seseorang pernah jatuh-bangun hanya untuk berusaha mengikuti langkahmu?
seseorang berbadan jangkung,
bersuara merdu salah satu cirimu. bukan karena kau pandai menyanyikan atau membawakan nada-nada lagu yang sedang dinyanyikan oleh lelaki seumuranmu. suara merdumu itu keluar saat kau melantunkan ayat suci Tuhan-Mu. suaramu mungkin tak lantang, tapi suaramu menyejukkan. entah hanya aku saja yang merasakan kesejukan suaramu itu atau ada yang lain...
ya, sepertinya bukan aku saja yg bisa mendengar suara merdumu yang menyejukkan itu.
langkahmu yang lebar-lebar itu, memberiku jawaban dari pertanyaanku.
ternyata ada hati lain yang berada didepan sana, membawa buah hati, yang selalu menunggumu pulang. pulang dari segala aktivitas, pulang dari segala keramaian dan kericuhan.
ah, sepertinya aku menjatuhkan pada hati yang salah :'))
bersamamu, seperti menyesap kopi. aroma dan rasanya melebur dalam nadi :')
Minggu, 16 November 2014
Senin, 29 September 2014
Tentang Sebuah pilihan
“Aku nyalain rokok, ya?” katanya sambil menatapku.
Matanya yang sayu –entah disayu-sayukan untuk memohon, atau memang
bentuk matanya yang sayu- seolah merajuk padaku agar aku mengatakan ‘iya’
Aku mengangguk dan tersenyum. Kemudian menyesap kembali es tehku
yang dingin
“Emang kenapa sih kamu gag suka sama orang yang merokok?” tanyanya
sambil meniupkan asap pertama setelah berhasil menyalakan rokoknya.
Aku hanya tersenyum.
Dia mengangguk. Aku yakin dengan pasti, dia tau alasanaku.
“Kalo nikah nanti dan aku masih belum berhenti merokok? Gimana?”
tanyanya lagi
“Kalo nanti ada laki-laki lain yang semua halnya sama denganku,
tapi dia tidak merokok, kamu pilih dia atau aku?” tanyanya lagi. Entah pada
tiupan asap rokok yang keberapa.
Aku hanya tersenyum. Selalu hanya tersenyum setiap aku menjawab
pertanyaannya. Karena aku yakin, dia tau dengan pasti jawaban dari pertanyaanku.
Aku tidak mau menjawab untuk yang kesekian kalinya. Hanya saja, aku menghindari
perdebatan kusir yang malah nantinya akan merusak makan malam kami.
Aku tau,
lelakiku yang satu ini memang suka merokok. Mungkin sudah pada tingkat addict.
Awalnya dia memang bukan lelaki yang merokok dengan ‘manner’. Tapi aku
mulai menyadarkannya. Karena merokok, selain merusak diri, juga bisa merusak
orang di sekitarnya. Memang kamu mau merusak kesehatanku juga? Begitu tanyaku
padanya. Dan dia mulai mendengarkanku untuk ‘manner’ merokok #ciyeeegitu
:’)
Dulu,
dulu sekali. Aku membenci orang yang merokok. Selain karena baunya yang kurang
bersahabat, juga sudah banyak sekali penelitian yang menyatakan merokok itu
buruk bagi siapapun. Baik perokok aktif maupun pasif. Malah lebih parah pada
perokok yang pasif. Selain itu, aku juga memiliki seorang paman ‘om’ yang
memiliki kelainan jantung, ditambah beliau dulu juga merokok. Kemudian ayahku
dan seluruh paman dari garis ayah, mereka perokok berat. Entah berapa batang
yang akan dihabiskan dalam sehari. Hingga ayahku mengidap penyakit paru-paru,
aku tidak begitu paham dengan nama medisnya, yang membuatnya sulit bernafas
karena banyaknya flak yang hinggap di paruparu ayah. Aku kerap memarahi mereka.
Jangan merokok! Merokok itu nggak sehat! Merokok itu bla..bla..blaaa dan bla.
Dan lagi,
merokok dijadikan indikator penilaian sikap pada setiap individu. Entah siapa
yang memulai membuat penilaian tersebut.
“Orang yang ngerokok itu cowok yang gag baik. Karena dia nggak
sopan”.
Begitulah
berita yang beredar di masyarakat. Dan naasnya, kebanyakan dari kita
mempercayai itu. Bahkan mungkin sangat meyakini itu. Termasuk aku salah
satunya.
Semakin
kesini, aku semakin mengubah cara pandangku terhadap merokok. Eh, maksudku
perokok. Aku mulai merubah pandanganku terhadap sikap orang yang merokok saat
aku bertemu dengan teman MI (SD Islam) dulu. Sebut saja dia Hari.
Hari
adalah teman kecilku saat di bangku MI. Dia adalah siswa yang sangat berbakat,
tidak diragukan lagi nilai akademiknya. Dibidang apapun sepertinya dia selalu
mengerjakan apa saja dengan baik. Sampai pada jenjang SMP dan SMA, prestasi
akademiknya yang cemerlang, diperindah lagi dengan prestasi non akademik dan
sikapnya yang sangat senang berorganisasi. Hingga dia memasuki salah satu
sekolah teknik negeri di Bandung. Saat kami bertemu unrtuk pertama kalinya, dia
bertanya kepadaku, “Kamu biasa dengan orang yang merokok nggak?” aku menjawab
dengan tegas. TIDAK dan dengan disertai alasan-alasan mengapa aku tidak
terbiasa dengan rokok. Kemudian dia izin sebentar keluar dan ternyata dia
merokok di halaman parkir. Kemudian kembali duduk denganku dan berbicara
seperti biasa. Awalnya aku menganggap kebiasaan dia aneh, hingga suatu hari dia
rela meatikan rokoknya karena sedang dduk di salah satu taman Hiburan di
Jakarta, karena ada ibu hamil dan seorang anak kecil yang tiba-tiba mengambil
duduk di sebelahnya. Aku terkaget melihatnya seperti itu. Baru kali itu aku
melihat seseorang yang rela mematikan rokoknya bukan karena dirinya, tapi
peduli terhadap kondisi orang disekitarnya.
Setelah
itu, aku mulai bertanya kepadanya tentang kebiasaan merokoknya itu. Ternyata
dia merokok karena kebiasaan untuk menemaninya begadang malam mengerjakan tugas
Kuliah yang terkadang memang tidak manusiawi. Dia merokok agar dia bisa kuat
menahan kantuk. Terkadang, saat uang yang dibutuhkan untuk makan belum datang,
dia merokok untuk sekedar menghilangkan rasa laparnya. Dan dia sangat tau,
resiko seorang yang perokok akan berhadapan dengan masalah kesehatan, juga
berhadapan dengan masalah pandangan orang terhadapnya. Lalu kemudian dia tau
bagaimana cara merokok agar tidak mengganggu orang disekitarnya
Ya,
merokok adalah pilihan. Tidak semua orang setuju dengan pilihan yang kita buat.
Tidak semua orang akan setuju dengan apa yang kita lakukan. Konsekuensi yang
akan kita hadapi dan resiko yang harus kita terima itulah yang akan menjadi musuh
utama saat kita akan mengambil suatu pilihan. Benar saja. Karena tidak semua
orang suka dengan asap rokok. Tapi itu
tergantung bagaimana kita memiliki tata-krama saat merokok. Tata krama ada
bukan untuk mengekang kita, tetapi untuk menghargai kebebasan orang lain. Untuk
belajar lebih peduli terhadap orang lain.
Seperti
lelakiku ini, saat dia bertanya kenapa aku tidak suka dengan orang yang
merokok? Aku menjawabnya secara medis. Bukan secara pandangan orang tentang
merokok. Karena pandangan orang pada seoarang perokok yang sedang beredar saat
ini hanyalah pandangan yang subjektif. Tidak didasarkan pada fakta dan data.
Dan saat aku sudah menjelaskan kejelekan rokok secara medis, tetapi dia masih
memilih untuk merokok (ya, bilangnya sih akan mengurangi, tapi entah dari
berapa batang rokok ke berapa batang rokok dalam sehari), Lalu saat dia
bertanya akankah aku berpaling darinya jika aku menemukan seorang yang mirip
dengannya namun bedanya hanya dia tidak merokok. Aku hanya tersenyum. Bukan
karena aku tahu, dia tau maksudku, tapi karena aku tidak tahu akan menjawab
apa. Jujur, aku lebih nyaman dengan mereka yang tidak merokok. Aku juga bisa
lebih menjamin kesehatan hidupnya (dalam hal ini kesehatan hanya karena dia
tidak merokok). Tapi entahlah. Entah aku yang nanti akhirnya akan toleransi
terhadap asap rokok yang dia hembuskan atau dia yang akan rela berhenti merokok
(dengan tahap) karena dia menyayangkan kesehatanku yang mungkin akan terganggu.
Tetapi
tetap, setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi dan resiko. Bukan tentang
pilihan apa yang akan kita buat. Tetapi tentang bagaimana sikap kita terhadap
konsekuensi dan resiko yang kita ambil :’))
Salam,
Putri
Ilmi yang belajar
Belajar
untuk mencintai lelakinya :’D
Sabtu, 19 Juli 2014
Kamu yang Menawarkan Payung di Musim Kemarau
hai kamu!
iya kamu
yang tiba-tiba datang padaku, tersenyum dan menawarkan payung
di tengah teriknya Matahari di musim kemarau
hai kamu!
iya kamu
yang tiba-tiba dengan tulus menawarkan es teh manis
di tengah keringnya tenggorokan di musim kemarau
hai kamu!
iya kamu
yang kuku-kuku jemarimu mulai menguning
karena terlalu sering menyelipkan rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah
dan, hai kamu!
yang suka diam-diam melihat mataku
yang tiba-tiba mengatakan mataku indah
yang tiba-tiba menggenggam tanganku
apakah kamu yakin menawarkan payungmu itu padaku?
bukan pada orang lain, yang mungkin bisa tersenyum sepanjang jalan saat berbincang denganmu?
apakah kamu yakin menawarkan es teh manis itu padaku?
bukan pada dia yang mungkin akan membalasmu dengan membuatkanmu sepotong kue bolu cokelat kesukaanmu?
apakah kamu yakin akan menggenggam tanganku dengan jemarimu yang memiliki kuku yang hampir menguning itu?
tidakkah kamu ingin menggenggam tangan seseorang yang mungkin bisa membuatmu berhenti merokok?
dan, apakah kamu yakin akan selalu menatap mataku seperti itu?
yang mungkin aku tidak akan membalas tatapanmu itu? bahkan mungkin aku akan memberikan tatapan mataku pada orang lain?
hei kamu
mungkin aku belum bisa menggenggam tanganmu, menatap matamu, menawarkan hatiku seperti kau yang menawarkan hatimu
tapi mungkin, aku akan mencoba menerima tawaran payungmu. menjadikan musim kemarau sesejuk musim penghujan :))
aku, yang masih mencoba untuk mencintaimu.
iya kamu
yang tiba-tiba datang padaku, tersenyum dan menawarkan payung
di tengah teriknya Matahari di musim kemarau
hai kamu!
iya kamu
yang tiba-tiba dengan tulus menawarkan es teh manis
di tengah keringnya tenggorokan di musim kemarau
hai kamu!
iya kamu
yang kuku-kuku jemarimu mulai menguning
karena terlalu sering menyelipkan rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah
dan, hai kamu!
yang suka diam-diam melihat mataku
yang tiba-tiba mengatakan mataku indah
yang tiba-tiba menggenggam tanganku
apakah kamu yakin menawarkan payungmu itu padaku?
bukan pada orang lain, yang mungkin bisa tersenyum sepanjang jalan saat berbincang denganmu?
apakah kamu yakin menawarkan es teh manis itu padaku?
bukan pada dia yang mungkin akan membalasmu dengan membuatkanmu sepotong kue bolu cokelat kesukaanmu?
apakah kamu yakin akan menggenggam tanganku dengan jemarimu yang memiliki kuku yang hampir menguning itu?
tidakkah kamu ingin menggenggam tangan seseorang yang mungkin bisa membuatmu berhenti merokok?
dan, apakah kamu yakin akan selalu menatap mataku seperti itu?
yang mungkin aku tidak akan membalas tatapanmu itu? bahkan mungkin aku akan memberikan tatapan mataku pada orang lain?
hei kamu
mungkin aku belum bisa menggenggam tanganmu, menatap matamu, menawarkan hatiku seperti kau yang menawarkan hatimu
tapi mungkin, aku akan mencoba menerima tawaran payungmu. menjadikan musim kemarau sesejuk musim penghujan :))
aku, yang masih mencoba untuk mencintaimu.
Minggu, 25 Mei 2014
Tuhan nggak pernah bosan :')
“Coffee Latte
sama cheese quiche-nya satu ya, Mas” pesanku pada mas-mas yang berdiri
dibelakang kasir dengan baju seragam Starbucks-nya.
“Semuanya
60.000, Mbak. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.
“Nggak, Mas
makasih” jawabku sambil mengambil kembalian dan menerima pesananku dan
membawanya ke tempat duduk favoritku. Kebetulan siang itu sedang kosong. Aku
tidak sedang dalam mood terbaikku untuk makan-makanan berat siang ini. Setelah
meeting dengan beberapa rekan kerjaku, aku memutuskan untuk ngopi saja siang ini sambil mencari
inspirasi untuk menulis novel ketigaku.
“Putri, ya?”
sapa seseorang dari sebelahku.
Aku
memandangnya. Menyipitkan mataku untuk lebih mempertajam pandanganku. Cahaya
lampu mall yang berada tepat di belakang –sepertinya- lelaki ini membuat
wajahnya terlihat sedikit gelap. Sulit bagiku untuk mengenali orang ini
“Eh, kamu!”
sapaku balik. Haha. Ya, aku masih belum mengenali siapa lelaki yang berdiri
disampingku ini
“Sendirian aja?”
tanyanya
“Yap” jawabku
singkat sambil tersenyum dan masih berfikir siapa lelaki didepanku ini
“Boleh aku duduk
disini?” tanyanya sambil menunjuk ke kursi kosong didepanku
“Yes, Please”
“Kamu apa
kabarnya?”katanya setelah duduk di depanku.
Oh, ternyata
Ramli. Dia teman sejurusanku saat kami duduk di bangku kuliah di salah satu
Universitas Negeri di Surabaya. Teman sejurusan namun tidak sekelas. Dan ya,
kami pernah mengisi hati masing-masing. Dulu sekali. Sekitar 4-5 tahun yang
lalu. Dan kemudian kami memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing.
“Baik dong. Kamu?” tanyaku
“As you see. I’m good and very happy”
katanya. Senyumnya dan tatapan matanya masih sama seperti 4 tahun yang lalu.
“Nggak nyangka
sih bisa ketemu disini” kataku. “Eh, tapi iya. Kok bisa disini sih? Kamu kerja
disini?”
“Iya. Aku uda
sekitar 2 tahunan kok disini. Kamu? Sejak kapan di Jakarta?”
“Sama deh. Aku
juga 2 tahun yang lalu. Lucu banget sih kita ini, haha” kataku sambil
menertawai keadaan kami.
Ramli tersenyum
sambil mengaduk Espresso-nya. Menu
yang sama seperti saat aku masih berhak memesankan minuman untuknya 4 tahun
yang lalu
“Emang kalo
boleh tau kamu kerja apa sekarang?” tanyaku yang mulai penasaran. Baju kemeja
lengan panjang berwarna putih yang setengah dari lengannya disingsingkan. Jas
hitam di tangan dan celana kain berwarna hitam. Septu fantovel berwarna hitam
dan tetap dengan kacamata yang semakin manis menghias wajahnya.
“Me? Ya, kerja-kerja gitu deh, Put.
Kebetulan Tuhan nggak sedang pelit menempatkan aku di posisi Manager di salah
satu Lembaga Bimbingan Belajar di Jakarta” katanya sambil menyeruput sedikit
Espresso-nya
What? Jadi dia manager? Dan aku Cuma
seorang penulis novel dan jadi staff tim kreatif di salah satu perusahaan TV
Swasta. Oke, aku akuin dia keren
“Hey! Kok diem?
Ngelamun gitu sih jadinya? Kalo kamu? Kamu kok bisa terdampar di Jakarta gini?”
tanyanya
“Well, aku nggak sekeren kamu sih. Aku
Cuma staff Tim kreatif di salah satu perusahaan TV Swasta” jawabku sambil
melahap potongan kecil cheese quiche-ku.
“Dan penulis
dari dua novel ini” katanya sambil mengeluarkan 2 buku yang ternyata itu adalah
kedua novelku yang sudah terbit
Aku terbelalak.
Mulutku menganga dan menatap Ramli, “Damn!
Kamu beli novelku?” tanyaku heran
Ramli
mengangguk. “Sejak kita menyudahi hubungan kita, aku masih jaga janji aku untuk
nungguin karya-karya kamu. Setiap aku ke mall, aku sempetin buat nengok ke
bagian novel-novel. Hingga suatu saat aku takjub banget saat ada yang namanya
Putri Ilmi Novelis disitu. Tanpa berfikir panjang langsung aku beli dan ku baca
malam harinya. And you do keep your
promise” katanya sambil tersenyum dan mengubah intonasi bicaranya di akhir
kalimat
“Me? What?” tanyaku heran. Janji? Janji
apa emangnya yang aku tepati?
Ramli membuka
halaman ‘persembahan’ dari novelku dan menunjuk ke salah satu point. Aku
menuliskan namanya di situ. “’Untuk sahabat-sahabatku, Ana, Dessy, Sikha,
Gembul. Dora, Ninot, Mbaqani, Afif, Zein, Bagus, Bang Teguh, Rafli dan Ramli.
See? Novel perdanaku jadi dan nama kalian ada disini’. This is your
promise” kata Ramli membacakan point persemabhan terimakasihku
Aku tersenyum
tipis. Ya, aku ingat. Aku berjani pada Ramli untuk menuliskan namanya saat
novel perdanaku nanti diterbitkan
“Kamu masih
sama, Put. Selalu ada yang kamu sembunyiin dari aku. Dan saat kita sudah nggak bersama
lagi pun, kamu masih menyembunyikannya. Kamu masih sama”
“Tau apa kamu,
Ram? Setiap orang pasti berubah, and so
do I. Aku berubah.” Kataku menyeimbangi nada keseriusan Ramli
“No. You are still the same. Kamu masih
pesan kopi dan cheese quiche yang sama.
Pergi ke kedai kopi yang sama, duduk di dekat jendela dengan menatap view keramaian, baik itu Jakarta atau
Surabaya. The way you look at me? Itu
juga masih sama” kata Ramli
Entah, seperti
ada yang mengiris hatiku. Terasa perih. Sejak aku memutuskan hubunganku dengan
Ramli, aku sama sekali belum bisa membuka hatiku untuk yang lain. Masih
mengunci rapat. Bukannya karena aku tidak mau membukanya, tapi aku menunggu
biar saja ada orang yang membukanya untukku.
“Aku tahu hal
ini akan terjadi” katanya
“Hal apa?”
tanyaku
“Pertemuan kita”
“Maksud kamu?”
“Ya, selama 4
tahun, aku tidak pernah bosan untuk berdoa. Aku tidak pernah bosan untuk
memohon dan mengusik Tuhan. Agar aku bisa bertemu lagi dengamu. Apapun keadaan
kita. Entah suatu saat kita bertemu saat kita berdua sudah membangun rumah
tangga masing-masing. Tapi aku akan sangat bersyukur jika Tuhan mempertemukan
kita saat kita berdua sedang mencari jawaban atas rahasia-rahasia Tuhan tentang
jodoh. Gampangnya adalah, saat aku ingin bertemu denganmu saat kamu sedang
tidak di tunggu oleh orang lain”
Aku terkejut
dengan jawaban Ramli. Sangat tidak kusangka Ramli bisa berbicara seperti itu
pada hari pertama kita bertemu setelah 4 tahun tidak bertemu. “Dan, bagaimana
kamu bisa seyakin itu kalau kita akan bertemu lagi?”
“Karena Tuhan
maha mendengar. Sekecil apapun bisikanku saat berdoa, Tuhan selalu mendengar.
Tuhan maha cerdas, Tuhan meletakkanku jauh di Jakarta bukan karena iseng. Tapi
Tuhan memberiku tempat yang layak di Jakarta. Dan juga, karena Tuhan tidak
pernah bosan mendengar doaku dan mengabulkannya untukku. Hingga aku yakin, aku
akan bertemu dengan mata yang teduh itu. Dan mata itu, milikmu, Put.”
Aku sedikit
terusik dengan apa yang dikatakan Ramli. Pengkhianatan komitmen yang pernah
dilakukannya, membuatku pernah sangat membencinya. Ah, emang selalu seperti itu
bukan? Setelah kita benar-benar menyukainya, akan ada masa kita akan
membencinya. Hingga rasa benci itu hilang tergeser oleh waktu. Hingga memori
buruk yang pernah ditinggalkannya itu menguap di ganti oleh meori-memori baru
dengan orang disekitarku. Tapi untuk memulai lagi dengan orang ini? Sepertinya,
entahlah. Hati ini masih sedikit lumpuh untuk kembali bisa merasakan cinta.
Anggap saja tatapan mata itu sebagai tatapan penyegar dan hadiah. Hadiah dari
Tuhan Sang Maha tidak perna bosan :’)
Rabu, 07 Mei 2014
Online to Offline
KLUNG!
Suara yang
cukup keras yang sepertinya bersumber dari tab internet mozilla-ku yang saat
ini sedang membuka profil facebook-ku. Tidak ada salahnya aku mengalihkan sebentar
pikiranku pada bunyi khas dari chat di sosial media itu. Siapa tau setelah aku
sedikit bermain dengan sosial media dan berbincqang sebentar dengan teman yang
aku kenal, aku akan mendapatkan inspirasi baru setelah berjam-jam duduk didepan
layar putih dengan tulisan bertita hitam ini.
Ada getaran
yang hebat saat ternyata kamu yang menyapaku. Tanda bulatan hijau di pojok
kanan atas tab bar chat yang terbuka menandakan kamu sedang online. Dan foto
profilmu yang terpampang jelas bersama wanitamu yang sekarang. Tenang, aku
sudah biasa melihat hal itu, jangan merasa tidak enak.
Him:
Busy nih ye (masih menyapaku dengan gaya yang sama)
Me:
Yoi (jawabku singkat. Menutupi perasaanku yang sedang bahagia meletup-letup)
Him:
Skripsimu nyampe mana, Put? (Ah
shit! Kenapa harus bahas hal itu?)
Me:
iya deh yang habis seminar
Him:
Not that. Still remember our promising to get graduation together, don’t you?
Me:
lagi nggak mood garap skripsi _sebut namanya_
Him:
Why? (Sebenarnya
aku meragu untuk menceritakan apa yang sebenarnya sedang menghambat pengerjaan
skripsiku. Tapi, sepertinya aku merindukan nasihat dan kata-kata semangatnya
yang sangat cerdas. Jika hal itu belum berubah).
Me:
Well, I’m in my project now
Him:
oh iya! Novel ya? Ah mana janjimu, novelis? Will you still write my name even
we’re not together again?
Me:
Yes, I will. Ah, why do I have so many promises to you :’))
Him:
Well, it means God doesn’t let us to be disconnect
Me:
hey, don’t be selfish
Him.
Oke I won’t. Apa yang ganggu kamu sih sampe bikin kamu gag mood nyekripsi, then?
Me:
Aku pengen keluar dari jalanku. Basic ku pendidikan biologi, tapi aku pengen
jadi penulis, pengen bisa handal bikin kue dan punya toko kue. A full time
writer and a baker, problem?
Him:
nope. Menurutku sih ya, Put. Just do as you wish. Mungkin kamu bosan dengan
jalanmu sekarang. Okelah, sesekali kamu boleh berbelok dan melihat-lihat hal
sekitar, mencoba hal baru. Tapi selesaikan apa yang menjadi kewajibanmu. Jangan
hanya terus menuntut hakmu. Mangatlah! You seem don’t like the one that I
always recognize, cheerfull girl!. Bolehlah mengeluh sesekali tapi kemudian maju
lagi dengan beban yang lebih ringan. Jangan menyerah, nggak ada salahnya untuk
mundur selangkah. Kita butuh itu untuk dapat lompat 5 kali lebih jauh. The journey
of a thousand miles start with a single step. Universe blesses your wish, if
you sure it makes you happy :’))
See? Dia selalu
cerdas kan?
Aku tersenyum
sambil kemudian mengatakan terimakasih atas semangat yang diberikannya. Lalu,
Offline
Jumat, 11 April 2014
Baiklah Tuhan, Aku Kalah :')
Aku
berdiri di depan ruangan berpintu cokelat tua sejak 2 jam yang lalu. Mataku
tertutup rapat, tanganku tertelungkup dan kurapatkan di depan dada. Keringat
dingin sebesar biji jagung menetes dari peluh, lututku bergetar lembut. Hanya
dari sekilas melihat, orang akan tahu bahwa aku sedang gugup.
Di
balik pintu itu, ada seorang lelaki dengan jas almamater berwarna biru tua yang
membalut kemeja putih di dalamnya yang rapi dengan celana
kain hitam dan kacamata berbingkai tipis yang dengan sangat baik menghias
wajahnya. Seseorang yang telah mengisi hatiku selama 4 tahun yang lalu.
Seseorang yang menjadi alasan untukku tersenyum setiap harinya. Tapi mungkin
alasanku untuk tetap tersenyum setiap harinya sudah tidak lagi sama sejak 1
tahun yang lalu.
KREK.
Pintu coklat khas pintu kampus ini terbuka perlahan. Seorang lelaki yang
ditaksir berumur 50-tahunan dengan baju kotak-kotak, disusul dengan seseorang
berbaju batik dan rambut yang disanggul keluar dari ruangan dingin itu
“Presentasi
sidang yang bagus sekali” kata seorang wanita paruh baya, berkerudung coklat
tua, dengan baju kemeja yang ditutupi oleh blazer
berwarna khaki yang baru saja keluar dari ruangan dingin itu sambil tersenyum
ke arahku
Aku
melepaskan nafas panjang dan segera berjalan cepat ke koridor di seberang
ruangan tempat aku berdiri sejak tadi yang dibatasi oleh pintu dorong. Aku
melihat Rafli keluar dari ruangan dingin itu. Lelaki yang dulu pernah mengisi
hatiku, sebelum aku bertemu dengan Reza, seorang suami dan ayah dari calon
bayiku ini.
“Om
Rafli berhasil, sayang” kataku perlahan, sambil mengelus perutku yang mulai
membesar karena ada janin yang tumbuh di perutku ini.
Aku
melihat Rafli yang masih di luar ruangan dengan wajah
lega. Tetapi gesture tubuh ‘celingukan’ terlihat seperti sedang mencari-cari
seseorang. Ingin rasanya aku kesana. Kembali menatap matanya, menjabat
tangannya dan memberinya ucapan selamat. Tapi keinginanku kutahan. Setelah aku
melihat seorang perempuan berkerudung merah yang menghampirinya, memeluknya
erat dan mengucap selamat untuknya
Mataku
panas, hatiku perih, dadaku sesak, lututku mulai lemas. Sekuat tenaga aku
membendung banjir yang mulai memenuhi pelupuk mataku. Tapi kemudian aku
tersenyum dan beranjak dari tempatku berdiri.
Baiklah
Tuhan, aku kalah!
Rabu, 02 April 2014
Tulisan Tuhan :')
Aku
membiarkan angin lembut menyapu wajah dan membalai halus rambut yang kubiarkan
tergerai. Tangan kananku sibuk mengaduk Iced Blended Coffee Latte yang sudah kupesan
sejak 3 jam yang lalu. Hari itu sungguh panas. Tak heran jika Coffee Shop ini
muai penuh dengan tamu-tamu yang ingin mendinginkan diri dari cuaca di luar
karena tempat Coffee Shop ini yang memang nyaman dan dingin karena AC.
Tangan
kiriku masih dipegang olehnya. Seseorang yang baru saja menyatakan cintanya
padaku beberapa puluh menit yang lalu. Matanya yang bulat bening itu seolah
menyoroti kebenaran isi hati dan perasaanya,
“Kamu
yakin atas perasaanmu itu?” tanyaku sambil perlahan menarik tanganku. Tetapi
gagal. Laki-laki itu semakin erat menggenggam tanganku.
“Apa
perlu aku membelah dada seperti yang dilakukan di iklan permen itu? Aku serius,
Put” katanya. Tanganku di genggamnya semakin erat.
“Aku
Cuma penjaga kafe ini, Tra. Kamu mahasisa yag bisa kuliah dengan beasiswa,
prestasimu cemerlang. Kamu masih yakin melabuhkan hatimu padaku? Di luar sana
masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dari aku yang mau ngantri buat
dapetin kamu loh” jelasku. Kemudian menyesap Iced Blended Coffee Latte yang sudah
tidak terlalu dingin itu.
“Lalu?
Kamu takut aku nikung?” tanya Putra. Matanya membulat lucu.
“Bukan.
Hanya saja kamu tahu lah, nggak ada ceritanya seorang mahasiswa berprestasi
cemerlang pacaran sama seorang barista yang berending bahagia” kataku melemah.
“Kalo
gitu, kita yang buat ceritanya lah, Put” katanya santai. Ah dia selalu bisa
membantahku
“Aku
bukan penulis. Begitupun kamu. Kamu itu hanya mahasiswa desain grafis. Bukan
mahasiswa sastra” tukasku
“Anggap
saja cerita ini sudah ditulis, Put”
“Oleh
siapa?”
“Tuhan”
Langganan:
Postingan (Atom)
[SKINCARE REVIEW] Skincare Clarice Clinic to the Rescue
Hai semuuaaaa Assalamualaikum Eh kebalik ya, harusnya salam dlu Assalamualaikum Hai semuaaaa Gini harusnya S...

-
Hai semuuaaaa Assalamualaikum Eh kebalik ya, harusnya salam dlu Assalamualaikum Hai semuaaaa Gini harusnya S...
-
Desclaimer! blog ini bertujuan untuk berbagi saja, tidak untuk menjatuhkan salah satu pihak atau merugikan pihak yang lainnya Halo! ketem...
-
Hai! Bertemu lagi. Kali ini aku mau review tentang skin care Korea yang lagi hits banget. Claimnya sih untuk All skin type tapi bagi...