“Coffee Latte
sama cheese quiche-nya satu ya, Mas” pesanku pada mas-mas yang berdiri
dibelakang kasir dengan baju seragam Starbucks-nya.
“Semuanya
60.000, Mbak. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.
“Nggak, Mas
makasih” jawabku sambil mengambil kembalian dan menerima pesananku dan
membawanya ke tempat duduk favoritku. Kebetulan siang itu sedang kosong. Aku
tidak sedang dalam mood terbaikku untuk makan-makanan berat siang ini. Setelah
meeting dengan beberapa rekan kerjaku, aku memutuskan untuk ngopi saja siang ini sambil mencari
inspirasi untuk menulis novel ketigaku.
“Putri, ya?”
sapa seseorang dari sebelahku.
Aku
memandangnya. Menyipitkan mataku untuk lebih mempertajam pandanganku. Cahaya
lampu mall yang berada tepat di belakang –sepertinya- lelaki ini membuat
wajahnya terlihat sedikit gelap. Sulit bagiku untuk mengenali orang ini
“Eh, kamu!”
sapaku balik. Haha. Ya, aku masih belum mengenali siapa lelaki yang berdiri
disampingku ini
“Sendirian aja?”
tanyanya
“Yap” jawabku
singkat sambil tersenyum dan masih berfikir siapa lelaki didepanku ini
“Boleh aku duduk
disini?” tanyanya sambil menunjuk ke kursi kosong didepanku
“Yes, Please”
“Kamu apa
kabarnya?”katanya setelah duduk di depanku.
Oh, ternyata
Ramli. Dia teman sejurusanku saat kami duduk di bangku kuliah di salah satu
Universitas Negeri di Surabaya. Teman sejurusan namun tidak sekelas. Dan ya,
kami pernah mengisi hati masing-masing. Dulu sekali. Sekitar 4-5 tahun yang
lalu. Dan kemudian kami memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing.
“Baik dong. Kamu?” tanyaku
“As you see. I’m good and very happy”
katanya. Senyumnya dan tatapan matanya masih sama seperti 4 tahun yang lalu.
“Nggak nyangka
sih bisa ketemu disini” kataku. “Eh, tapi iya. Kok bisa disini sih? Kamu kerja
disini?”
“Iya. Aku uda
sekitar 2 tahunan kok disini. Kamu? Sejak kapan di Jakarta?”
“Sama deh. Aku
juga 2 tahun yang lalu. Lucu banget sih kita ini, haha” kataku sambil
menertawai keadaan kami.
Ramli tersenyum
sambil mengaduk Espresso-nya. Menu
yang sama seperti saat aku masih berhak memesankan minuman untuknya 4 tahun
yang lalu
“Emang kalo
boleh tau kamu kerja apa sekarang?” tanyaku yang mulai penasaran. Baju kemeja
lengan panjang berwarna putih yang setengah dari lengannya disingsingkan. Jas
hitam di tangan dan celana kain berwarna hitam. Septu fantovel berwarna hitam
dan tetap dengan kacamata yang semakin manis menghias wajahnya.
“Me? Ya, kerja-kerja gitu deh, Put.
Kebetulan Tuhan nggak sedang pelit menempatkan aku di posisi Manager di salah
satu Lembaga Bimbingan Belajar di Jakarta” katanya sambil menyeruput sedikit
Espresso-nya
What? Jadi dia manager? Dan aku Cuma
seorang penulis novel dan jadi staff tim kreatif di salah satu perusahaan TV
Swasta. Oke, aku akuin dia keren
“Hey! Kok diem?
Ngelamun gitu sih jadinya? Kalo kamu? Kamu kok bisa terdampar di Jakarta gini?”
tanyanya
“Well, aku nggak sekeren kamu sih. Aku
Cuma staff Tim kreatif di salah satu perusahaan TV Swasta” jawabku sambil
melahap potongan kecil cheese quiche-ku.
“Dan penulis
dari dua novel ini” katanya sambil mengeluarkan 2 buku yang ternyata itu adalah
kedua novelku yang sudah terbit
Aku terbelalak.
Mulutku menganga dan menatap Ramli, “Damn!
Kamu beli novelku?” tanyaku heran
Ramli
mengangguk. “Sejak kita menyudahi hubungan kita, aku masih jaga janji aku untuk
nungguin karya-karya kamu. Setiap aku ke mall, aku sempetin buat nengok ke
bagian novel-novel. Hingga suatu saat aku takjub banget saat ada yang namanya
Putri Ilmi Novelis disitu. Tanpa berfikir panjang langsung aku beli dan ku baca
malam harinya. And you do keep your
promise” katanya sambil tersenyum dan mengubah intonasi bicaranya di akhir
kalimat
“Me? What?” tanyaku heran. Janji? Janji
apa emangnya yang aku tepati?
Ramli membuka
halaman ‘persembahan’ dari novelku dan menunjuk ke salah satu point. Aku
menuliskan namanya di situ. “’Untuk sahabat-sahabatku, Ana, Dessy, Sikha,
Gembul. Dora, Ninot, Mbaqani, Afif, Zein, Bagus, Bang Teguh, Rafli dan Ramli.
See? Novel perdanaku jadi dan nama kalian ada disini’. This is your
promise” kata Ramli membacakan point persemabhan terimakasihku
Aku tersenyum
tipis. Ya, aku ingat. Aku berjani pada Ramli untuk menuliskan namanya saat
novel perdanaku nanti diterbitkan
“Kamu masih
sama, Put. Selalu ada yang kamu sembunyiin dari aku. Dan saat kita sudah nggak bersama
lagi pun, kamu masih menyembunyikannya. Kamu masih sama”
“Tau apa kamu,
Ram? Setiap orang pasti berubah, and so
do I. Aku berubah.” Kataku menyeimbangi nada keseriusan Ramli
“No. You are still the same. Kamu masih
pesan kopi dan cheese quiche yang sama.
Pergi ke kedai kopi yang sama, duduk di dekat jendela dengan menatap view keramaian, baik itu Jakarta atau
Surabaya. The way you look at me? Itu
juga masih sama” kata Ramli
Entah, seperti
ada yang mengiris hatiku. Terasa perih. Sejak aku memutuskan hubunganku dengan
Ramli, aku sama sekali belum bisa membuka hatiku untuk yang lain. Masih
mengunci rapat. Bukannya karena aku tidak mau membukanya, tapi aku menunggu
biar saja ada orang yang membukanya untukku.
“Aku tahu hal
ini akan terjadi” katanya
“Hal apa?”
tanyaku
“Pertemuan kita”
“Maksud kamu?”
“Ya, selama 4
tahun, aku tidak pernah bosan untuk berdoa. Aku tidak pernah bosan untuk
memohon dan mengusik Tuhan. Agar aku bisa bertemu lagi dengamu. Apapun keadaan
kita. Entah suatu saat kita bertemu saat kita berdua sudah membangun rumah
tangga masing-masing. Tapi aku akan sangat bersyukur jika Tuhan mempertemukan
kita saat kita berdua sedang mencari jawaban atas rahasia-rahasia Tuhan tentang
jodoh. Gampangnya adalah, saat aku ingin bertemu denganmu saat kamu sedang
tidak di tunggu oleh orang lain”
Aku terkejut
dengan jawaban Ramli. Sangat tidak kusangka Ramli bisa berbicara seperti itu
pada hari pertama kita bertemu setelah 4 tahun tidak bertemu. “Dan, bagaimana
kamu bisa seyakin itu kalau kita akan bertemu lagi?”
“Karena Tuhan
maha mendengar. Sekecil apapun bisikanku saat berdoa, Tuhan selalu mendengar.
Tuhan maha cerdas, Tuhan meletakkanku jauh di Jakarta bukan karena iseng. Tapi
Tuhan memberiku tempat yang layak di Jakarta. Dan juga, karena Tuhan tidak
pernah bosan mendengar doaku dan mengabulkannya untukku. Hingga aku yakin, aku
akan bertemu dengan mata yang teduh itu. Dan mata itu, milikmu, Put.”
Aku sedikit
terusik dengan apa yang dikatakan Ramli. Pengkhianatan komitmen yang pernah
dilakukannya, membuatku pernah sangat membencinya. Ah, emang selalu seperti itu
bukan? Setelah kita benar-benar menyukainya, akan ada masa kita akan
membencinya. Hingga rasa benci itu hilang tergeser oleh waktu. Hingga memori
buruk yang pernah ditinggalkannya itu menguap di ganti oleh meori-memori baru
dengan orang disekitarku. Tapi untuk memulai lagi dengan orang ini? Sepertinya,
entahlah. Hati ini masih sedikit lumpuh untuk kembali bisa merasakan cinta.
Anggap saja tatapan mata itu sebagai tatapan penyegar dan hadiah. Hadiah dari
Tuhan Sang Maha tidak perna bosan :’)