Aku
merebahkan tubuhku begitu saja di atas kasur yang masih rapi. Dominasi warna
biru pastel kamar ini yang selalu bisa membuatku tenang. Jujur, banyak hal yang
perlu kupikirkan dan aku merasa otakku sangat penuh. Andai saja di dunia ini
ada sebuah toko yang menjual otak dengan berbagai kapasitas seperti menjual
flash disk, mungkin aku akan membelinya dengan kapasitas terbesar, agar aku
bisa menampung semua hal di otakku dan tidak merasa terlalu berat
Masih
sangat ku ingat bagaimana Aldo menggandeng tangan itu, memeluk pinggang itu,
bersandar di pundak itu dan tersenyum pada orang itu. Bukan tanganku, bukan
pinggangku, bukan pundakku dan bukan padaku. Bukan, semua bukan padaku. Tapi pada
wanita itu, sesosok wanita dengan tinggi tubuh tak jauh dariku, paras tak jauh
lebih cantik dariku dan otak yang tidak jauh lebih baik dariku. Jelas dia bukan
orang baik-baik. Mana mungkin ada wanita baik-baik yang merelakan dirinya di
gandeng, di peluk atau diperlakukan yang manis oleh laki-laki yang sudah
memiliki wanita lain
Aku
mengangkat telepon genggamku, menekan tombol satu, mencoba menghubungi orang
yang saat ini, mungkin saat dulu, adalah orang yang menempati urutan pertama di
hatiku. Aldo.
“Halo?”
suara dari seberang sana. Tersambung
“Kamu,
dimana?” tanyaku sedikit terbata.
“Oh,
aku baru saja selesai mengajar kelas malam, sayang. Capek sekali. Ada apa?”
tanyanya. Bohong. Jelas aku tahu itu. Bukan karena aku telah melihatnya bersama
wanita lain di Mall itu, tapi nada suaranya, aku sangat bisa mengenali nada
suaranya yang sedikit gugup
“Kita
putus” kataku dengan sangat tegas, mata tertutup dan tangan kiri yang mengepal.
Mengeluarkan energi seluruh jiwa dan raga. Mengeluarkan keberanian untuk
menyudahi hubungan yang tidak sehat ini
“Sayang,
kamu bicara apa?” tanya nya dengan pertanyaan khas laki-laki yang kaget
setengah mati karena di putus pacarnya. Entah kaget karena kalah mencuri start
untuk mengatakan putus atau kaget dalam arti sebenarnya
“Wanita
dengan kaos kuning, celana jeans dan wedges putih berambut panjang sepinggang
sepertinya bisa menggantikan posisiku di hatimu? Menggandeng tangannya, memeluk
pinggangnya, bersandar di pundaknya, tersenyum padanya. Bukan hanya aku,
munngkin orang-orang di mall yang lebih objektif pengelihatannya daripada aku, akan
melihat pancaran ‘hubungan yang lebih dari teman’ dari bahasa tubuh kalian. We are
end, Aldo. Terimakasih buat satu tahun lebih dua bulan ini” KLIK. Aku menekan
tombol ‘end call’. Dan mengganti profil telepon genggamku pada mode silent. Aku
sedang tidak ingin di ganggu. Biar saja malam ini aku ditemani oleh beribu-ribu
butir air mata yang aku tumpahkan. Biar saja aku mencoba menutup semua kenangan
selama satu tahun ini dengan semua rasa sakit dan nyeri yang melanda di hati. Karena
kenyataan hanya satu, aku dan Aldo sudah berakhir, itu keputusanku yang mungkin
akan di hiasi dengan beberapa belas bahkan puluhan panggilan tak terjawab dan
sms yang tak berbalas darinya. Karena hatiku tidak bisa dipermainkan.dan rasaku padamu sudah benar-benar berakhir. End